.:: SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA JEMAAT HOSANA KAROMBASAN MANADO ::.

.:: TOGETHERNESS TO OVERCOMES ::.

Pesan Salib Kristus: "Hiduplah untuk Kebenaran"



Firman Allah mengingatkan dan menghendaki setiap orang percaya yang telah menerima berkat penebusan dosa melalui pengorbanan tubuh dan darah Yesus Kristus di kayu salib, hiduplah untuk kebenaran.   Demikian inti tema Pelayanan Firman Tuhan oleh Gembala GPdI Hosana Karombasan Manado, Pdt. Edwin F. Sumilat, S.Th., MA pada Ibadah Raya Jumat Agung, 03 April 2015 di gereja.`

Mengutip ayat terakhir dari nats pokok khotbahnya yang terdapat dalam 1 Petrus 2 : 18-24, Gembala menekankan tentang maksud kerelaan Yesus memikul dosa manusia di dalam tubuh-Nya di kayu salib.   “Supaya kita yang sudah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.  Inilah pesan salib Kristus, yakni hiduplah untuk kebenaran!” tegasnya di hadapan ratusan jemaat setempat yang hadir dalam suasana sukacita memperingati Hari Raya Paskah.  

Artinya, kehidupan sebelumnya yang penuh dengan dosa, harus berubah setelah salib Kristus Yesus.   Kini, menurut Sumilat, orang percaya mesti hidup dalam kebenaran Firman Allah.   Dan, sebagai jaminannya, bilur-bilur Dia memulihkan kita.    “Berkat salib Kristus, kita telah disembuhkan oleh bilur-bilur-Nya,” tukasnya lewat ibadah yang dipandu Song/Worship Leader Pdm. Ibu Santy Runtuwene-Mumu, S.PdK bersama singers; Pdm. Ibu Juita Mirah-Panoma, Pdm. Sarah Ora, Ibu Ingried Permana-Sumilat, serta pemusik; Bpk. Reagen Reppie, Bpk. Lapian,Sdra. Presly Yacob, dan Sdra. Israel Rumengan.

Mengawali renungan Firman Tuhan, tokoh transformasi gereja Sulut ini, sedikit mengulas tentang film rohani “The Passion of Christ” yang masuk dalam daftar ”box office” film terlaris dunia.   Keistimewaannya, karena mengangkat penderitaan Yesus yang lebih mendekati “kesamaan” pengalaman Kristus, dibandingkan film-film serupa sebelumnya.   Meski sudah berusaha maksimal, namun seperti pengakuan sang pembuat  film, Mel Gibson -saat penayangan perdana-, dirinya tetap tak mampu menampilkan kesengsaraan Dia yang sebenarnya.  

Itu sebabnya, lanjutnya, rasul Petrus -yang menyaksikan langsung penderitaan Kristus Yesus- mengajarkan perihal kesengsaraan-Nya sebagai teladan bagi gereja Tuhan.    Kekristenan mesti terus berbuat baik kepada semua orang, sekalipun orang itu bertindak jahat dan bengis terhadap kita.   “Sebab adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah, menanggung penderitaan yang tidak  seharusnya ditanggungnya,” tutur pengurus Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kota Manado ini mengutip ayat Alkitab.   

Namun, jika kita berbuat baik dan harus menderita karenanya, itulah kasih karunia pada Bapa.   Sebab, untuk itulah, kita dipanggil.   Kristus telah menderita untuk kita, dan meninggalkan teladan bagi kita, supaya mengikuti jejak Dia.   1 Petrus 2 :  22-23 menyebutkan, Yesus tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.    Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki.   Begitu pun, saat menderita, Yesus Kristus tidak mengancam.   Tetapi, menyerahkannya kepada Bapa yang menghakimi dengan adil.   “Intinya, Yesus tak pernah berhenti sampai tuntas menyelesaikan semua tanggungjawab pelayanan Dia.” jelasnya.    Hal ini, menurut Gembala, menjadi keteladanan yang mesti kita ikuti.

“Kristus juga tak mau tambahan suplemen energi untuk menahan siksaan aniaya yang dialami-Nya,” tukasnya, seraya membacakan Matius 27 : 34.   Dijelaskan mantan Direktur Sekolah Alkitab Pontianak (Kalbar) ini, Ia mati bukan karena penderitaan fisik, tapi menanggung dosa manusia akibat dosa.   Satu-satunya penyebab kematian Kristus Yesus, lanjutnya, setelah Dia berkata: “Sudah selesai!”.     “1 Korintus 15 : 3 menegaskan, Ia mati karena dosa manusia.” tandas Wakil Sekretaris Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) Sulut ini.

Untuk itu, tambahnya, hidup kekristenan harus berpadanan dengan salib Kristus.   Berkat pengorbanan Yesus di kayu salib, mesti menjadi bagian dalam kehidupan orang percaya.   Meskipun harus menderita seperti seorang hamba yang diperbudak, kita menganggapnya itu sebagai kasih karunia.     “Artinya, tak ada kesukaran apapun yang dapat menghalangi kesetiaan kita dalam pengiringan dan pelayanan kepada Tuhan,” pungkas Sumilat. 


Tags :



Berita Terkait