.:: SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA JEMAAT HOSANA KAROMBASAN MANADO ::.

.:: TOGETHERNESS TO OVERCOMES ::.

94 Tahun GPdI Kobarkan Terus Api Pantekosta



Sehari setelah umat kristiani memperingati Hari Pentakosta, warga Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) se-Sulawesi Utara merayakannya dengan mengadakan Ibadah Agung Hari Pantekosta, Senin (09/06) di Lapangan KONI Sario Manado.   Kegiatan rohani bertemakan “Kobarkan Terus Api Pantekosta Menuju Kesempurnaan Gereja” tersebut, dimaksudkan juga untuk mensyukuri anugerah Tuhan dalam melewati 94 tahun GPdI melayani dan berkarya -termasuk- di daerah ini. 

Puluhan ribu peserta dari berbagai komponen utusan Majelis Daerah (MD), Majelis Wilayah (MW), dan sidang jemaat GPdI se-Sulut, dengan berseragam -kebanyakan- pakaian putih-putih dan membawa atribut bendera kuning-merah-biru, serta puluhan kendaraan hias berwarna-warni, menambah semaraknya suasana lokasi penyelenggaran sejak pagi hari.   Turut hadir pula Gembala GPdI Hosana Karombasan Manado, Pdt. Edwin F. Sumilat, S.Th., MA yang juga selaku Ketua Biro Pertumbuhan Gereja MD GPdI Sulut. 

Setelah diawali dengan Ucapan Selamat Datang oleh Sekretaris Umum Panitia, Pdt. Hanny S.D. Awuy, ibadah pun berlangsung dengan penuh sukacita hingga masuk pada pelayanan Firman Allah oleh Pdt. J.A. Awondatu, M.Th.  Melalui khotbah berjudul ”Injil Sepenuh adalah Sepenuh-penuhnya Injil”, Ketua I Majelis Pusat (MP) GPdI ini, mengingatkan kembali sejarah berdiri GPdI dan para perintisnya yang sangat berkaitan erat dengan kuasa Roh Kudus.   “GPdI harus kembali seperti dulu, dengan hanya mengandalkan kuasa Roh Kudus.” tukas Awondatu.  Mengambil nats pokok dalam Roma 15 : 18-19, pimpinan Sekolah Alkitab Cianjur ini juga, mengajak seluruh jemaat dan para Hamba Tuhan untuk terus memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.  “Jangan pernah ragu dan takut.  Sekali kelak, pasti salib akan digantikan mahkota.” tegasnya, seraya menambahkan, agar warga GPdI terus pula mengobarkan Api Pantekosta menuju Kesempurnaan Gereja. 

Usai khotbah, Gubernur Dr. S.H. Sarundajang yang baru tiba dengan jajaran Forum Kooordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulut, merespon positif penyelenggaraan iven rohani tahunan yang digelar MD GpdI Sulut.  Selain itu, melalui sambutannya, SHS memberikan apresiasi atas partisipasi warga GPdI dalam pembangunan di bumi Nyiur Melambai.  Menurutnya, selang 94 tahun GPdi menjalankan misi pelayanan Kristus di tengah-tengah dunia, telah banyak karya ilahi yang diwujudkan  dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.

“GPDI menunjukkan diri sebagai salah satu komunitas ilahi terbesar di tanah air, dimana terbangun atas berbagai potensi dan kepelbagaian jemaat. Ini membuktikan dalam usia yang ke-94 Tahun, GPdi semakin dewasa dalam merangkai karya pelayanan menjadi komunitas yang mandiri, serta mampu mengaktualisasikan misi kristus ditangah-tengah dunia,” tandas Gubernur.

Selanjutnya, orang nomor satu Sulut ini didampingi Ketua Deprov Meiva Lintang, Kapolda Brigjen Pol. Drs. Jimmy P. Sinaga, Kajati Junker Sianturi, Kabinda, Wakil Gubernur Dr. Djouhari Kansil, perwakilan Danrem dan Lantamal, Wakil Walikota Manado Dr. Harley A.B. Mangindaan, SE., MSM, Wakil Bupati Boltim, Medy Lensun, dan Ketua Panitia Drs. Meki M. Onibala, M.Si, melepas rombongan pertama peserta pawai kendaraan hias. 

Sementara Onibala dalam laporannya, mengatakan, GPdi merupakan sebuah organisasi gereja yang eksistensinya dalam pembinaan terhadap pemeluk agama kristen, terutama aliran Pantekosta telah terbukti selama lebih dari 94 tahun.   “Jumlah anggota di Sulut telah melebihi 250 ribu anggota, dan 120 wilayah yang terdiri dari 1.639 sidang jemaat serta perwakilan GPdi di luar negeri dan saat ini telah menjadi sebuah kekuatan yang besar dalam membangun dan bersinergi dengan pemerintah. Salah satu perayaan yang penting adalah hari raya pantekosta ini, dirayakan 10 hari setelah hari kenaikan Yesus Kristus yang dijadikan sebagai sarana fellowship bagi umat GPdi se- sulut,”  tutur Kepala Inspektorat Sulut ini.

Berkaitan peringatan HUT ke-94 GPdI, sejarah menyebutkan, berawal kedatangan dua keluarga missionaris dari Gereja Bethel Temple Seattle, USA ke Indonesia pada tahun 1921 yaitu Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika.  Dimulai dari Bali, pelayanan beralih ke Surabaya di pulau Jawa tahun 1922, kemudian ke kota minyak Cepu (1923). Di kota inilah F.G Van Gessel (pegawai BPM) bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus, dan disertai/disusul banyak putera – puteri Indonesia lainnya antara lain; H.N. Runkat, J. Repi, A. Tambuwun, J. Lumenta, E. Lesnusa, G.A Yokom, R. Mangindaan, W. Mamahit, S.I.P Lumoindong, dan A.E. Siwi yang kemudian menjadi pionir-pionir pergerakan Pantekosta di seluruh Indonesia.

Kemajuannya yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924, Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.  Berkat kuasa Roh Kudus serta semangat pelayanan yang tinggi, jemaat-jemaat baru mulai bertumbuh dimana-mana.

Selanjutnya, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523.  Berdasarkan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”.  Saat zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda itu diubah menjadi “Gereja Pantekosta di Indonesia”, dengan Ketua Badan Pengoeroes Oemoem ( Majelis Pusat) adalah Pdt. H.N Runkat.

Peranan para pioneer patut dikenang.  Berkat perjuangan mereka, pohon GPdI telah bertumbuh dengan lebat.  Antara lain: Pdt. H.N. Runkat yang merambah ladang di Pulau Jawa, (Jakarta, Jabar, Jateng, dll), tahun 1929 Pdt. Yulianus Repi dan Pdt. A. Tambuwun disusul oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. Lumenta, Pdt. Runtuwailan menggempur Sulawesi Utara, tahun 1939, dari Sulut / Ternante Pdt. E. Lesnussa ke Makasar dan sekitarnya. Tahun 1926 Pdt. Nanlohy menjangkau kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey, dll.  Tahun 1928 Pdt. S.I.P Lumoindong ke D.I Yogyakarta tahun 1933 Pdt. A.E. Siwi menabur ke pulau Sumatera (Sumsel, Lampung, Sumbar dan kemudian tahun 1939 ke Sumut), tahun 1932 Pdt. RM Soeprapto mulai membantu pelayanan di Blitar kemudian Singosari dsk, tahun 1937 ke Sitiarjo Malang Selatan.  Tahun 1935 Pdt. Siloey dkk, merintis pelayanan ke Kupang NTT, tahun 1930 Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattyradjawane dan A.F Wessel ke Kalimantan Timur.  Tahun 1940 Pdt. JMP Batubara menebas ladang Kalimantan Barat (Pontianak), Pdt. Yonathan Itar pelopor Injil Pantekosta di Irian Jaya, dan lainnya.   Pengorbanan mereka, telah mengantarkan GPdI bertumbuh dengan pesat. 

 


Tags :



Berita Terkait